Thursday, 20 December 2018

Makanan Fermentasi: Seberapa Sehat dan Seberapa Sering Boleh Dimakan?

img detail
ISTOCK

Tahu, tempe, dkk. 

Kombucha. Kimchi. Yogurt. Sauerkraut. Miso, Kefir. Tape. Semua adalah makanan fermentasi yang sudah ada berabad-abad tapi akhir-akhir ini status mereka menggelora. Alasannya? Woop bertanya kepada dr. Raissa E. Djuanda, M.Gizi., Sp.GK., seorang dokter spesialis gizi klinis dari RS Hermina Jatinegara dan RSPI Puri Indah, Jakarta.

Pertama dan utama, mari meminta penjelasan tentang makanan fermentasi. 

“Makanan yang terbuat dari proses fermentasi adalah makanan dengan proses dimana substansi gula dipecah menjadi subtansi yang lebih kecil, sehingga mudah diserap tubuh oleh bakteri hidup. Misalnya, kimchi, tempe, yogurt, tape dan wine,” jawabnya.

Gegap gempita makanan fermentasi akhir-akhir ini disebabkan karena konon katanya makanan fermentasi sangat baik untuk kesehatan. 

“Relatif. Dan, mayoritas benar,” tukasnya. “Karena makanan fermentasi mengandung probiotik/bakteri yang baik, sehingga bermanfaat untuk memperbaiki sistem pencernaan, meningkatkan sistem imun, dan mencegah sembelit,” jelasnya.

*Tepuk tangan untuk makanan fermentasi. Pok-pok-pok. 

Akan tetapi, “ada yang perlu diingat, makanan fermentasi ada yang mendapatkan tambahan gula yang tinggi, seperti yogurt dan wine. Jadi, meskipun sehat, tapi kalau asupan kalori dan gula yang dikonsumsi berlebihan, tetap dapat menyebabkan penyakit,” saran Raissa.

Seorang profesor mikrobiologi di Huddersfield Universitas menyatakan semua data yang bilang bahwa makanan fermentasi sehat berasal dari, "data yang tidak bisa didapat dipercaya atau dari studi yang dilakukan pada binatang. Ada percobaan yang dujicobakan pada tikus yang memperlihatkan potensi positif pada tingkat kolesterol dan darah tinggi." Menurutnya, satu-satunya kasus studi yang dilakukan pada manusia dan dipublikasikan, yang memperlihatkan efek negatif seperti manusia mengalami acidosis—ketika terlalu banyak asam di dalma tubuh—kemungkinan dari terlalu banyak minum kombucha. 

Oke, dicatat. Jadi, seberapa sering kita harus memakannya? Bolehkah setiap hari?

“Boleh-boleh saja, asal... dalam kondisi sehat. Tapi tetap harus memperhatikan porsi dan asupan kalori hariannya juga. Ingat, jangan sampai berlebihan. Pilihlah makanan fermentasi yang mengandung gula, garam dan lemak yang rendah,” tegasnya.

Dan hati-hati pula. Jika tidak cocok, makanan fermentasi bisa menyebabkan "perut kembung, bergas, mual, konstipasi, rasa haus berlebihan, sakit kepala, dan mencetuskan reaksi alergi pada sebagian orang.”

Raissa juga menyarankan untuk ibu hamil dan menyusui, atau orang yang dengan gangguan hati, agar tidak mengonsumsi makanan fermentasi yang mengandung alkohol, seperti beer dan wine.

Selanjutnya: Ini 6 tren makanan 2019 yang harus kamu tahu (inspirasi seandainya ingin membuka restoran sendiri). 


MORE ARTICLES


POPULAR ARTICLES
MORE CAREER
MORE TRAVEL
MORE INTERVIEW
MORE BEAUTY & STYLE
MORE MONEY
MORE HEALTH
MORE RELATIONSHIP
MORE HOUSE DECOR